• Aneuek Mud
  • Rapat Di Belanda
  • Yusuf Dawood and Guree
  • Pelanggara
  • Bangsa Aceh Berdemo Di Jalan Raya Stockholm
  • Organisasi pembebasan
Aneuek Muda1 Rapat Di Belanda2 Yusuf Dawood and Guree3 Pelanggara 4 Bangsa Aceh Berdemo Di Jalan Raya Stockholm 5 Organisasi pembebasan 6

Acheh-Sumatra National Liberation Front

Siaran Pers
17 Maret 2016

Sehubungan dengan berakhirnya masa kerja Presidium ASNLF periode 2012-2016, maka akan diselenggarakan Rapat Majelis Umum (RMU) pada tanggal 25-27 Maret di Den Haag, Belanda.

Dalam RMU ini, Presidium ASNLF akan menyampaikan laporan pertanggungjawaban periode 2012-2016. Sebagaimana diatur dalam konstitusinya, juga akan berlangsung pemilihan Presidium ASNLF untuk masa kerja empat tahun ke depan. Penyusunan rencana kerja periode tersebut juga menjadi salah satu agenda penting dalam rapat tersebut. Di hari penutupan akan berlangsung kunjungan studi ke museum kolonial Hindia Beulanda di kota Arnheim, dimana peninggalan benda-benda sejarah dari kerajaan-kerajaan di nusantara dipamerkan.

Diperkirakan, RMU akan dihadiri oleh utusan-utusan bangsa Acheh dari berbagai penjuru dunia, yang saat ini tengah berjuang untuk kemerdekaannya.

Terpilihnya Belanda, sebagai tempat berlangsungnya rapat perjuangan kemerdekaan Acheh ini tidak terlepas dari beberapa hal yang terkait dengan sejarah panjang antara dua kerajaan, Kerajaan Belanda dan Kesultanan Acheh.

Pada abad ke-16 Sultan Alauddin Riayat Syah mengirim misi diplomasi pertama ke Eropah, yang dipimpin oleh Tuanku Abdul Hamid. Beliau dan rombongan sampai di Middleburg, ibu kota Zeeland pada Agustus 1602 dan disambut oleh Pangeran Maurits. Namun, tidak berapa lama sampai di Middleburg, Tuanku Abdul Hamid meninggal karena sakit dan dimakamkan di pekarangan gereja di Middleburg, Zeeland (salah satu provinsi di Belanda).

Namun sayangnya, pada 26 Maret 1873 Kerajaan Belanda mengeluarkan deklarasi perang kepada Kesultanan Acheh, yang telah menewaskan ratusan ribu bangsa Acheh hingga saat ini. Pernyataan perang ini tidak pernah dicabut oleh Kerajaan Belanda, bahkan menurut hukum internasional, Belanda telah menyerahkan kedaulatan tanah Acheh secara illegal kepada pemerintah Hindia Belanda, yang sekarang lebih dikenal dengan Indonesia.

Selain dari pada itu, di Belanda juga tersimpan sejumlah besar buku-buku tentang Acheh. Bahkan lebih dari 1200 judul buku tentang Acheh telah tersimpan dalam format digital dan dapat diakses oleh umum melalui jaringan internet. Buku-buku itu diterbitkan dalam berbagai bahasa, Acheh, Indonesia, Inggris, Belanda dan dalam bahasa Eropah lainnya dan rentang waktu mulai abad ke-17 hingga saat ini. Projek digitalisasi ini dirintis oleh The Royal Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies (Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde = KITLV) di Leiden dengan dukungan finansial dari Kementrian Pendidikan dan Perpustakaan Kerajaan Belanda di Den Haag.

Sejak bergabungnya kembali dalam UNPO, yang berkedudukan di Den Haag, pada tahun 2014, ASNLF juga sudah sering kali mengirim delegasinya ke negara kincir angin ini untuk meningkatan kemampuan anggotanya dalam memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri.

***

Our Local Website

Laman web resmi kami: Sekretariat ASNLF/AM Sweden

Website UN

United Nations - Laman web PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)

Website Pusat

ASNLF Pusat adalah laman web resmi ASNLF/AM