• Aneuek Mud
  • Rapat Di Belanda
  • Yusuf Dawood and Guree
  • Pelanggara
  • Bangsa Aceh Berdemo Di Jalan Raya Stockholm
  • Organisasi pembebasan
Aneuek Muda1 Rapat Di Belanda2 Yusuf Dawood and Guree3 Pelanggara 4 Bangsa Aceh Berdemo Di Jalan Raya Stockholm 5 Organisasi pembebasan 6

Citizen Reporter

Melacak Surat Sultan Aceh

Kamis, 11 Oktober 2012 08:53

SAAT menginjakkan kaki di Negeri Oranje (Belanda), terasa terpaan angin kencang menampar wajah. Dingin yang menerpa memaksa kami mengetatkan resleting jaket. Suhu udara yang berkisar 11-15°C sangat dingin bagi orang-orang pesisir seperti kami, orang Aceh.

Sepanjang jalan dari Bandara Schippol di Amsterdam sampai ke hotel di Den Haag, tak henti-hentinya kami berdecak kagum memandang bangunan kuno yang indah dengan pohon-pohon yang daunnya mulai menguning. Ini pertanda telah masuk musim gugur.

Memasuki kota Den Haag (The Hague), tampak pemandangan yang menarik, sepeda-sepeda berseliweran di jalanan.

Selaku tim pelacak arsip dari Pemerintah Aceh, kami melapor lebih dulu kepada Dubes RI, Ibu Retno LP Marsudi. Alhamdulillah, beliau menyambut kami dengan hangat. Spontan dia nyatakan rasa kagumnya kepada sejarah dan kebudayaan Aceh.

Esok paginya kami melangkah menuju Arsip Nasional Belanda yang bersebelahan dengan Central Stasion (CS) Den Haag. Kami telah ditunggu Mr Frans van Dijk, yang telah mengatur kami untuk bertemu Kepala Arsip Nasional Belanda (Nationaal Archief), Mr Martin Berendse yang juga Ketua ICA (Komite Internasional Arsip). Beliau sangat senang menerima kami. Mr Frans van Dijk kemudian membawa kami melihat-lihat ruangan preservasi dan konservasi, serta depo (ruang penyimpanan arsip) mereka.

Banyak hal yang membuat kami berdecak kagum. Di antaranya peralatan dan bahan kelengkapan preservasi dan konservasi mereka. Kami berharap fasilitas semacam ini dapat dimiliki oleh Badan Arsip dan Perpustakaan Aceh.

Rasa kagum kembali berdecak manakala kami sampai di ruang penyimpanan arsip (depo) mereka yang bila disusun di lapangan bola bakal penuh dengan arsip. Kami memulai pelacakan dengan membuka website untuk mencari surat Sultan Iskandar Thani abad ke-17. Dr Annabel Gallop (ahli numismatik dari Inggris) dalam tulisannya berjudul “Emas, Perak, dan Lapis Lazuli: Surat-surat Kesultanan Aceh Abad Ke-17” mengungkapkan keberadaan terjemahan surat Sultan Iskandar Thani dalam bahasa Belanda tersimpan di Arsip Nasional Belanda.

Setelah memesan melalui website, akhirnya kami dapat pegang surat tersebut. Tak tergambarkan betapa senangnya kami memegang bukti kejayaan Aceh masa lalu. Surat yang merupakan terjemahan surat asli ke dalam bahasa Belanda ini adalah salah satu surat Kesultanan Aceh abad ke-17 yang masih dapat kita lihat dan raba wujudnya. Sedangkan surat asli yang berbahasa Melayu dan bertuliskan huruf Arab, tersimpan di Perpustakaan Universitas Leiden.

Selain surat ini juga ditemukan laporan dari pegawai VOC tentang tingkah laku, kegemaran sultan-sultan yang memerintah setelah Sultan Iskandar Muda. Di Arsip Nasional Belanda ini juga ditemukan banyak catatan dan dokumen tentang sejarah Aceh. Selain itu terdapat pula peta-peta wilayah Aceh dan Sumatera Utara yang dibuat tahun 1900.

Kami kemudian bergerak ke Perpustakaan Universitas Leiden (Universiteit Bibliotheek) ditemani Amiq Ahyad, ahli manuskrip, untuk melacak surat asli Sultan Iskandar Thani. Subhanallah! Ini persis seperti surat yang digambarkan Dr Annabel Gallop, sebuah surat yang ditulis di atas kertas mulberry, khas Turki. Beberapa ahli menyebutnya sebagai surat yang ditulis di atas kertas dinding (wallpaper).

Hiasan dan warna surat ini sangat tidak lazim dalam konteks surat-surat Melayu yang beriluminasi (seni menghias secara manual aspek dekoratif suatu tulisan dengan makna tertentu agar komunikatif).

Warna biru sangat jarang ditemukan dalam buku-buku seni manuskrip Melayu. Ternyata setelah dilakukan analisis ilmiah, terungkap bahwa lapisan biru ini adalah lapisan azuli. Azuli biru ini sangat dibanggakan oleh Istana Aceh dan digunakan untuk mewarnai gajah dan kuda-kuda piaraan Sultan Iskandar Thani.

Semoga surat ini dapat menjadi bahan referensi bagi mahasiswa dan peneliti Aceh. Demikian doa yang terucap di bibir Pak Amiq, begitu juga harapan kami semua. Salam dari Negeri Oranje.

Sumber: http://aceh.tribunnews.com/2012/10/11/melacak-surat-sultan-aceh

***
 

Our Local Website

Laman web resmi kami: Sekretariat ASNLF/AM Sweden

Website UN

United Nations - Laman web PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)

Website Pusat

ASNLF Pusat adalah laman web resmi ASNLF/AM