Maulid di Swedia, Muliakan Nabi Lestarikan Tradisi

Masyarakat Aceh dari berbagai kota di Swedia berkumpul dalam satu ruangan untuk memperkuat syiar islam di negeri Skandinavia. ASNAWI ALI

Merayakan maulid Nabi Muhammad SAW 1437 Hijriah, komunitas warga Aceh di Swedia yang tergabung dalam Svensk-Atjehnesiska Föreningen menggelar syair pujian kepada Baginda Rasulullah dan ceramah yang disampaikan oleh dua ustaz warga Swedia. Acara itu dilaksanakan di kota Örebro, 200 Km arah barat Stockholm, ibu kota Swedia, pada Sabtu, 27 Februari 2016.

Suasana langsung berubah akrab ketika tiba semua undangan warga Aceh yang tinggal di berbagai kota di Swedia dan belasan warga Muslim Rohingya yang mendapatkan suaka di negeri Skandinavia ini.

Meskipun masih musim salju, dingin yang dirasakan berubah hangat penuh semangat saat kegiatan diawali dengan zikir dan salawat bersama oleh gabungan generasi dewasa serta anak Aceh yang lahir dan besar di Swedia. Di waktu yang sama, ibu-ibu memasak makanan khas kenduri maulid yang hampir sama dengan tradisi di kampung halamannya di Aceh, seperti pecal, ketan, rendang, masak putih, ayam bakar, ikan tongkol, acar, telor asin, kari kambing, dan nasi bungkus. Dibuat juga cendol sebagai minuman pelengkap.

”Ada yang dimasak dari rumah dibawa dengan kendaraan dan ada juga dipanaskan dalam gedung acara maulid ini,” ujar Kak Marlina, seorang dari mereka.

Sementara itu, kelompok anak muda Aceh yang lahir di Swedia tampil di depan dalam lantunan syair maulid yang dipimpin oleh Tgk Abu Bakar, ustad asal Punteut, Lhokseumawe, yang sudah 8 tahun bermukim di Swedia. Selanjutnya diikuti generasi tua Aceh. Suara mereka menggaung bersilangan. Mimbar yang dihiasi bendera bulan bintang itupun diisi ceramah maulid oleh Ustaz Abdul Majid dalam bahasa Swedia. Ia mengajak komunitas Aceh agar mengingat kembali perjuangan Nabi serta meneladani akhlak dan perilaku mulia beliau. “Nabi juga pernah merasakan sebagai status pengungsi dan juga berjuang keras untuk Islam,” kata ustaz warga Swedia asal Maroko ini.

Sedangkan ceramah kedua disampaikan oleh Ustaz Hamisi Sanani, pengungsi Muslim Burundi. Ustaz jebolan Mesir ini lebih fokus menceritakan serba-serbi pengungsi muslim di salah satu negeri Skandinavia ini. Meskipun bukan berasal dari Aceh, di sela-sela nasihatnya, Ustaz Hamisi juga menyampaikan himbauan khusus kepada generasi muda Aceh yang besar di Swedia. “Jangan sampai anak-anak kita disini lebih mengenal klub Barcelona daripada pengetahuan fikih,” katanya sambil memberikan contoh lain bahwa tantangan hidup sebagai muslim di Barat sangat berat.

Setelah ceramah tersebut semua hadirin ikut jamuan kenduri bersama yang telah dipersiapkan oleh kaum hawa dengan suasana ke-Aceh-an.

SYIAR ISLAM DI SWEDIA
“Sangat senang dengan adanya maulid ini. Khususnya bagi anak-anak Aceh yang jarang bisa bersilaturahim dengan kawan mereka yang tinggal di berbagai kota di Swedia, yang sebelumnya hanya berjumpa di alam maya seperti di Facebook,” ujar Ramli Abe. Tak hanya dari kota Örebro, juga hadir keluarga Aceh yang tinggal di kota Hällefors, Eskiltuna, Nyköping dan Stockholm. Perkumpulan itu diharapkan untuk memperkuat kesatuan generasi muda Aceh di Swedia yang nantinya bisa meneruskan syiar Islam di negara minoritas muslim.

“Seperti supaya mereka tidak lupa akan sejarah Nabi. Ini amat penting karena ilmu itu tidak diajarkan di sekolah mereka,” ujar Ramli Abe yang juga ketua panitia maulid.

Dia menjelaskan, acara maulid sudah menjadi kegiatan tahunan bagi masyarakat Aceh di Swedia yang digelar oleh Svensk-Atjehnesiska Föreningen sejak Meunasah Atjèh di Stockholm berdiri pada tahun 2000. Menurutnya acara itu perlu diadakan setiap tahun yang dipusatkan di kota Örebro, karena semakin bertambah generasi baru yang tiba di Swedia. Hari itu, maulid dihadiri sekitar 110 orang termasuk anak-anak dan tamu undangan.

Dengan adanya acara itu, setidaknya mereka bisa menikmati makanan halal bersama dalam satu gedung. Tidak seperti hari-hari biasa yang harus berburu makanan dan daging halal di restoran atau toko milik pengungsi muslim asal Suriah, Somalia, Turki, Afghanistan dan Kurdi. Hidup merantau membaur dengan berbagai bangsa telah menyatukan Muslim sebagai keluarga. Dan, itu sudah dibuktikan di Swedia ini.

Sumber: Tabloid Pikiran Merdeka 7 - 13 Maret 2016.

***

Our Local Website

Laman web resmi kami: Sekretariat ASNLF/AM Sweden

Website UN

United Nations - Laman web PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa)

Website Pusat

ASNLF Pusat adalah laman web resmi ASNLF/AM